“Pembantai”

pembantu.jpgPembantu Rumah Tangga, dalam kehidupan domestik masyarakat di Indonesia sesungguhnya memiliki peran sosial penting, namun strata kelas menghambat publikasi gerak sosial kaum Pembantu ini untuk melakukan gerakan budaya, konsolidasi kekuatan daya tawar politik maupun membentuk habitat dan way of life-nya. Hanya pembantulah satu-satunya pekerjaan yang tidak memiliki daya realitasnya di Indonesia. Pembantu tidak bisa disamakan dengan buruh yang merupakan

kelas paling bawah dalam sistem ekonomi dan sosial di Indonesia,
kehadirannya secara sosial kaum pembantu ini ibarat udara ia tidak
kelihatan tapi bisa dirasakan dan sangat penting. Belum pernah
sepanjang sejarahnya pembantu rumah tangga di Indonesia membentuk
asosiasi profesi. Ide asosiasi itu pernah muncul pada tataran
komedi di tahun 70-an dengan ketuanya Zus Doris Callebout dimana
mendapat sponsor dari Djalal Gendut lewat film `Inem Pelayan Seksi’.

Pembantu memiliki pengaruh sosial yang luar biasa dalam sejarah
kehidupan bangsa Indonesia, ini bisa dilihat dari beragam nama yang
dinisbahkan pada kaum pembantu ini, dari mulai Babu, Bedinde, Batur,
Jongos, Kacung sampai Pembokat. Budaya lokal yang paling banyak
memanfaatkan tenaga pembantu adalah Budaya Jawa. Itu tak lepas dari
struktur priyayi. Dalam budaya Jawa dikenal istilah Magersari dan
Ngenger. Magersari adalah sekelompok masyarakat yang tinggal di
lahan milik priyayi kemudian juga bekerja pada Priyayi itu sementara
Ngenger adalah bekerja secara ikhlas dan tidak bayar kepada suatu
rumah tangga orang yang kedudukannya jauh lebih tinggi secara
martabat, derajat dan pangkat dibanding dirinya. Suharto, eks
Presiden RI itu pernah merasakan budaya Ngenger ini di rumah
keluarga Harjowiyono di Wonogiri disitu Suharto muda bekerja
membersihkan rumah, menguras dan mengisi air dan kegiatan domestik
rumah tangga yang mirip dengan pekerjaan seorang kacung –makannyapun
dari makanan sisa sang majikan-. Namun dari keluarga Harjowiyono,
Suharto muda mengenal Kyai Daryatmo yang kelak menjadi penasihat
spiritual setelah Suharto menjadi `orang’ disinilah tanggung jawab
Harjowiyono membentuk Suharto, mengenalkan dunia pertanian yang
kelak sektor pertanian merupakan pusat perhatian dan prestasi
tertinggi Suharto dalam mengelola negara.

Dalam budaya Jawa, Cina Peranakan (juga mungkin Sunda) pembantu
bukanlah pekerja yang memiliki hak-hak pekerja dengan imbalan
kemampuan profesi. Makna pembantu lebih diartikan sebagai orang yang
tidak mampu untuk hidup sendiri dalam dunia yang keras, maka itu
pembantu memerlukan perlindungan dari kekuasaan sang majikan. Sinar
kekuasaan inilah yang membuat pembantu itu merasa nyaman dan
terlindungi. Bahkan sampai saat ini pembantu adalah bagian dari
keluarga bukan pekerja asing di dalam keluarga yang punya hak dan
kewajiban sesuai dengan klaim profesi. Kenyamanan, perlindungan dan
merasa bagian dari keluarga yang menurut dirinya dipandang terhormat
merupakan alasan banyak pembantu-pembantu rumah tangga di Indonesia
bisa betah bekerja di keluarga selama puluhan tahun bahkan turun-
temurun pada satu keluarga tak heran anak seorang majikan kenal
dengan pembantu yang merawat ibu atau bapaknya saat masih bayi
bahkan mungkin masih bekerja di keluarga tersebut.

Pembantu dalam makna Jawa juga memiliki hak untuk mendapatkan masa
depan yang lebih baik dengan memudahkan mobilitas sosial mereka ke
strata kelas yang lebih terhormat, tanggung jawab itu secara moral
diletakkan pada sang majikan. Sampai saat ini masih banyak pembantu-
pembantu di Indonesia yang masih usia sekolah di sekolahkan oleh
majikannya. Istilah `Pembantu disekolain’ masih sering kita dengar
di sampai sekarang. Untuk menjelaskan tanggung jawab majikan dalam
budaya priyayi-Jawa terhadap pembantu mungkin kita bisa menoleh pada
novel `Para Priyayi’ Umar Kayam dengan tokoh Lantip sebagai gambaran
karakter orang yang ngenger, pembantu yang memiliki hubungan saudara
jauh. Dalam novel itu dikisahkan Lantip, anak haram seorang saudara
jauh dari keluarga Sastrosudarsono, dulu Sastrosudarsono yang petani
dengan bantuan seorang wedana yang baik hati dia bermetamorfosa
menjadi seorang priyayi dititipi anak dari sepupu jauhnya yang sudah
hidup menjanda dan tidak tidak mampu agar anak tersebut menjadi
seorang priyayi bukan petani dekil. Anak yang dibesarkan
Sastrosudarsono ini gagal menjadi priyayi, malah tumbuh menjadi anak
yang kurang ajar, membuntingi gadis desa penjual tempe dan kabur
dari rumah lalu berakhir mati ditembak oleh polisi karena dia
menjadi anggota gerombolan kecu (rampok). Merasa gagal terhadap anak
yang dititipinya kemudian Sastrosudarsono merasa berhutang untuk
membayar kegagalannya, untuk itu dia menerima Lantip, anak haram
dari hubungan gelap keponakan jauhnya yang begundal itu dan dididik
sampai menjadi orang yang terhormat dalam masyarakat. Makna priyayi
itulah yang menurut Umar Kayam berarti membebaskan manusia dari
takdirnya sebagai manusia subordinat menjadi manusia merdeka yang
mampu memerdekakan orang lain tanpa melupakan bentuk balas jasa
berupa pengabdian timbal balik, seperti yang dilakukan Lantip dengan
mengabdi pada keluarga Nugroho anak kedua Sastrosudarsono dan
menjagai Harimurti cucu Sastrosudarsono yang dipenjara karena dia
aktif di PKI atau mengurus tetek bengek perkawinan yang setengah
tidak direstui oleh keluarga Darsono, anak sulung Sastrosudarsono
yang menjadi pengusaha besar dimana sebelumnya adalah Kolonel
Angkatan Bersenjata.

Lantip tidak bisa duduk sejajar dengan majikannya, ia harus duduk
dibawah. Secara eksistensi sosial hak Lantip dibantai, namun secara
kemanusiaan hak Lantip dilindungi inilah yang banyak dialami
pembantu-pembantu di Indonesia. Pembantu di Indonesia tidak bisa
diperbolehkan duduk di kursi yang ditempati majikan, ia tidak boleh
makan ditempat yang sama dengan majikannya makan namun kekerasan
jarang terdengar terjadi pada pembantu-pembantu yang bekerja di
keluarga Indonesia yang sejak lama memiliki tradisi menggunakan
pembantu, mungkin kejadian satu dua terjadi tapi itu lebih pada
penyimpangan sakit jiwa ketimbang bentuk sosial perlakuan terhadap
pembantu rumah tangga. Walaupun saat ini kultur priyayi sudah
bergeser pada keluarga-keluarga modern, namun sisa kebajikan
melindungi hak kemanusiaan terhadap pembantu rumah tangga masih
sangat ketara. Hubungan pembantu-majikan di Indonesia memang sudah
bergeser pada hubungan kontrak kerja yang bernada kapitalis, namun
ketika pembantu itu mengalami domestifikasi maka kultur pembantu
keluarga Jawa yang khas masih bisa terlihat jelas bahkan di keluarga-
keluarga muda Indonesia.

Pertengahan tahun 90-an sampai awal tahun 2000-an, agak sulit
keluarga-keluarga menengah Indonesia mencari pembantu karena mereka
harus bersaing dengan pasaran tenaga kerja pembantu di luar negeri,
namun di tahun 2005 keatas ada kecenderungan para pekerja migran
yang berprofesi pembantu rumah tangga itu lebih memilih bekerja pada
keluarga-keluarga Indonesia yang ternyata walaupun membayar murah
pekerjaan mereka (sekitar Rp.350.000 sampai Rp.500.000 sebulan)
namun kebajikan kultur Jawa membuat mereka sadar, bahwa hubungan
kontrak yang semata-mata kapitalisme tidak membawa kenyamanan bagi
mereka.

Di Hongkong dan Taiwan dimana banyak komunitas pekerja pembantu
rumah tangga asal Indonesia. Profesi pembantu rumah tangga bukan
lagi berkaitan semata-mata pada masalah kultur yang melekat seperti
di Indonesia, tapi lebih murni kepada persoalan tenaga kerja. Para
pekerja migran Indonesia yang berprofesi sebagai pembantu rumah
tangga, memiliki tempat dalam strata sosial dan diakui dalam
kedudukan sosialnya tersebut yang mungkin paralel dengan kelompok
sosial pekerja asing kelas bawah. Secara sosial mereka diakui, tapi
secara kemanusiaan kedudukan pembantu rumah tangga di Hongkong dan
Taiwan seringkali terancam, ini mungkin disebabkan oleh : tuntutan
profesionalitas, merasa terancam terhadap kehadiran pekerja asing
dan sistem sosial mereka yang keras, disiplin dan tepat waktu.

Di Indonesia jarang sekali pembantu dituntut bisa melakukan sesuatu
dengan mahir, apalagi pembantu baru. Bagi keluarga-keluarga
Indonesia seorang pembantu lebih dinilai dari kemampuannya memberi
rasa nyaman secara psikologis pada sang majikan bukan pada
kemampuannya yang tinggi dalam memasak, mengasuh anak, membersihkan
rumah, mencuci –setrika pakaian dan tetek bengek pekerjaan rumah
tangga lainnya. Pembantu yang bisa menyesuaikan diri dan tahu unggah-
ungguh komunikasi dengan majikan yang merasa strata sosialnya lebih
tinggi lebih dapat cepat beradaptasi. Jadi memang pekerjaan PRT itu
tidak membutuhkan tingkat profesionalitas tertentu, agen-agen
penyalur lokal pembantu jarang memberikan pelatihan yang njlimet,
idiom `kalo nggak goblok, ya bukan pembantu’ menjadi stigma yang
wajar diterima masyarakat Indonesia. `Pembantu bodoh-bodoh pintar’
adalah idaman keluarga-keluarga di Indonesia bahkan dunia lawak
Srimulat sering menggambarkan pembantu jenis ini. Tapi bagi
masyarakat berkultur Industri dan tidak mengenal budaya Jawa seperti
Singapura, Hongkong dan Taiwan mereka menganggap pembantu adalah
profesional, tidak ada subordinat sosial disini, bagi mereka
eksistensi sosial PRT sejajar dengan profesi-profesi lainnya, bahkan
secara hukum pekerjaan mereka diakui, disini posisi sosial pembantu
mendapat pengakuan formal – sementara di Indonesia perjuangan
formalisasi pekerjaan pembantu rumah tangga yang diperjuangkan LSM-
LSM tenaga kerja tidak pernah berhasil kedudukan PRT tidak ada
landasan hukumnya – namun pengakuan sosial bagi pekerjaan PRT di
Singapura, Taiwan dan Hongkong harus di imbali dengan kemampuan
profesional, celakanya mentalitas profesional yang dituntut
masyarakat industri tidak dimiliki pembantu-pembantu ini yang
kebanyakan dari masyarakat pedesaan berkultur agraris yang tidak
mengenal konsep nilai waktu, disiplin dan berkemampuan tinggi.
Seperti pendahulu-pendahulunya yang bekerja sebagai pembantu pada
keluarga Indonesia, mereka menganggap bahwa profesi pembantu tidak
mutlak memerlukan ketrampilan, hal yang harus diperhatikan adalah
adaptasi pada keluarga dengan sikap yang hormat itu saja. Titik
kontra inilah yang kemudian banyak melahirkan kekerasan terhadap
pekerja migran di Singapura, Hongkong dan Taiwan. Di satu sisi kaum
majikan merasa mereka sudah membayar mahal bukan saja pada
Pembantunya tapi juga pada agen penyalur, disisi lain para pembantu
itu gagap kompleks baik bahasa, budaya yang berbeda, struktur
pekerjaan yang dinilainya aneh, aturan-aturan asing dan lain
sebagainya.

Di Singapura, Hongkong dan Taiwan para pembantu itu bisa duduk
bersama dengan majikan di meja makan yang sama dan makan bersama
dengan makanan yang sama pada apa yang majikan makan dan mendapat
hari libur. Walaupun pada awalnya gagap budaya itu cenderung
melahirkan kekerasan namun profesionalitas para pekerja migran yang
berprofesi pembantu itu terbentuk dan menjadi subkultur dalam
masyarakat disana. Di Taman Victoria, Hongkong setiap sabtu dan
minggu menjadi ajang kumpul pembantu disana, orang Malang, Madiun,
Jember atau bahkan Lombok sekalipun bila berkunjung kesana tidak
berasa di Hongkong yang berbahasa Mandarin tetapi seperti berada di
Jawa dengan bahasanya yang kita kenal akrab.

Lain di negara-negara Asia Timur berbasis masyarakat industri yang
meletakkan pembantu rumah tangga sebagai bagian dari pekerja formal.
Di negara-negara timur tengah posisi pembantu bukan saja tidak
mendapat perlindungan hukum, tapi juga hilang hak sosialnya dan hak
kemanusiaannya. Di negara-negara Arab budaya sistem perbudakan dan
jual beli manusia yang telah membudaya selama ribuan tahun tidak
hilang begitu saja dan mewariskan mentalitas kultur itu pada
masyarakat modern Arab terutama negara-negara Petrodollar. Seorang
budak perdefinisi merupakan seorang taklukan, dia tidak dianggap
eksistensinya, kemanusiaannya nyaris hilang satu-satunya yang
mungkin ada dalam diri seorang budak adalah produksi dari hasil
kerjanya. Mati hidup seorang budak hanya bergantung pada pemilik.
Pemilik hak hidup seorang budak adalah majikan yang tidak
bertanggung jawab terhadap keamanan pribadi, memberi kenyamanan
psikis dan mobilitas sosial. Jadi ketergantungan keamanan pribadi
mutlak diberikan pada sikap mental majikan. Inilah yang kemudian
melahirkan banyak kekerasan fisik, seksual maupun verbal bagi
pembantu-pembantu rumah tangga yang bekerja di Arab Saudi. Hak
asasi mereka dianggap sudah menjadi milik majikan ketika majikan itu
membayar kepada agen dan dirinya, dalam alam bawah sadar yang
terpengaruh kultur perbudakan, seorang majikan ketika membayar ia
membeli bukan sebagai kontrak kerja. Tatkala kemudian ada kekerasan
terhadap pembantu rumah tangga maka sistem hukum di negara itu
melindungi majikan apapun kesalahan majikan itu, karena secara
sosial anggapan pembantu itu adalah budak masih lekat dalam
kelayakan tata sosial mereka, dimana pembantu bukan saja tidak
memiliki hak hukum tapi juga hak kemanusiaannya.

Di Amerika Serikat negara yang paling maju dalam perlindungan hak
asasi manusia juga masih menyimpan masalah terhadap pekerja-pekerja
migran namun konsentrasi permasalahan tidak terletak pada masalah
sosial tapi lebih pada masalah hukum ketenagakerjaan untuk membatasi
pekerja asing. Baru-baru ini juga terjadi penyiksaan yang dilakukan
oleh warga negara AS keturunan India terhadap pembantu rumah tangga
asal Indonesia, namun hukum AS bersikap tegas dengan mempenjarakan
majikan itu dalam hukuman selama puluhan tahun. Sebuah sikap sosial
dan hukum yang layak ditiru dalam melindungi hak kemanusiaan
seseorang.

Selain sering menimbulkan masalah kekerasan, ada juga sedikit
masalah yang menggangu akibat negara kita rajin mengekspor pembantu
rumah tangga, atau dengan kata lain mengekspor kemiskinan, yaitu
martabat orang Indonesia dipandang rendah oleh negara-negara yang
dulu jaman Bung Karno mungkin `calon jajahan’ kita seperti Singapura
dan Malaysia. Julukan `Indon’ bagi orang Indonesia lebih
diasosiasikan pada kalimat peyoratif ketimbang kalimat pujian. Teman
saya pernah diceritakan Bapaknya yang sering berkunjung ke
Malaysia. “Dulu jaman Bung Karno kalau orang Indonesia berkunjung ke
Malaysia, mereka takut pada kita, kita dianggap seperti orang Iran
sekarang..manusia bermartabat, revolusioner dan berani menantang
Inggris dan Amerika, namun sekarang posisi kita tak jauh lebih dari
buruh yang tidak dianggap” itulah kenapa seorang wasit karate dengan
tugas resmi dari negara dengan gampang dianiaya polisi disana.
Penurunan kualitas martabat ini harus dipertanyakan, mungkin kita
memiliki kepemimpinan berkualitas garong ketimbang kepemimpinan
berkualitas priyayi yang melindungi dan membebaskan kemanusiaan
seseorang.

Penulis: ANTON <anton_djakarta@yahoo.com>

Leave a comment

Filed under Info

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s