Pelantikan Prof. Dr. Arif Rahman

Kepunahan bahasa, terutama bahasa daerah, menjadi
masalah serius yang juga perlu perhatian pemerintah dan masyarakat.
Sebab, proses kepunahan bahasa ini akan diikuti dengan kepunahan
budaya dan pada akhirnya kepunahan masyarakat.

Padahal, bahasa adalah refleksi dan identitas yang paling kokoh dari
sebuah budaya. Untuk itu, upaya serius dalam menyelamatkan
bahasa-bahasa daerah perlu dilakukan sehingga Indonesia tetap menjadi
negara yang bhineka tetapi tetap bertunggal ika.

Demikian disampaikan Arief Rachman dalam orasi pengukuhan sebagai guru
besar bidang ilmu pendidikan bahasa Inggris pada Fakultas Bahasa dan
Seni, Universitas Negeri Jakarta (FBS- UNJ), Selasa (22/5). Sidang
pengukuhan tersebut dipimpin Rektor UNJ Bedjo Sujanto.

“Kondisi bahasa-bahasa daerah di seluruh dunia yang sangat banyak ini
ternyata hanya digunakan oleh minoritas masyarakat dan tergeser oleh
bahasa-bahasa yang dianggap lebih universal, seperti bahasa Inggris
dan bahasa resmi negara masing-masing. Indikasi ini mencerminkan bahwa
bahasa-bahasa daerah yang masuk dalam kategori bahasa mayoritas,
tetapi minoritas pemakaiannya, secara perlahan akan mengalami
kepunahan,” kata Arief dalam orasinya berjudul “Kepunahan Bahasa
Daerah karena Kehadiran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris serta
Upaya Penyelamatannya”.

Kepunahan bahasa daerah di Indonesia, seperti terhimpun dalam Atlas of
The World’s Languages in Danger of Disappearing karya Stephen A Wurm
(2001) yang diterbitkan UNESCO menunjukkan fenomena itu. Di Sulawesi,
misalnya, dari 110 bahasa daerah, 36 bahasa terancam punah dan satu
sudah punah. Di Maluku, 22 bahasa terancam punah dan 11 sudah punah
dari 80 bahasa daerah yang ada. Ancaman kepunahan cukup besar ada di
Papua. Dari 271 bahasa yang ada di sana, 56 terancam punah.

Dalam konteks Indonesia, kata Arief, memang tidak ada bukti yang dapat
dikemukakan bahwa kehadiran bahasa Indonesia ataupun bahasa lainnya,
seperti bahasa Inggris, menyisihkan kedudukan bahasa daerah. Akan
tetapi, ada indikasi atau kecenderungan pemakaian bahasa Indonesia dan
bahasa Inggris untuk kepentingan tertentu—termasuk dalam pendidikan
formal—membuat kedudukan bahasa-bahasa daerah menjadi lemah.

“Anak-anak sekolah digiring untuk beranggapan bahwa bahasa Indonesia
dan (bahasa) Inggris menjadi superior dibandingkan dengan bahasa
ibunya. Kondisi ini diperparah sikap orangtua di rumah yang juga tidak
memakai bahasa daerah dalam berkomunikasi,” jelas Arief.

Menurut Arief, perlu dibuat program-program penyelamatan bahasa daerah
yang terancam punah melalui kegiatan-kegiatan strategis. Bahasa daerah
juga perlu diberi peran yang berarti dalam kehidupan modern, termasuk
pemakaian bahasa lokal pada kehidupan sehari-hari, perdagangan, dan
pendidikan. (ELN)

Sumber: kompas

Leave a comment

Filed under Info

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s