Sekolah Mencabik-cabik Nurani

Tak ada yang tak setuju alias semua setuju bahwa kekerasan yang
menyebabkan kematian Cliff Muntu, mahasiswa Institut Pemerintahan
Dalam Negeri, pada 3 April 2007 harus dikecam. Kemarahan, cercaan,
hujatan ditimpakan ke lembaga pendidikan itu.

Reaksi itu menandakan nurani masih didengarkan. Akankah mendengarkan
nurani menjadi sebuah habitus (kebiasaan) dalam sekolah/lembaga
pendidikan?

Nurani tercabik-cabik

Berbagai reaksi atas kekerasan yang membudaya di Institut
Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dan yang merampas jiwa, selama
berhari-hari membawa harapan baru, yakni nurani masih didengarkan
atau nurani masih berfungsi.

Namun, apabila mengamati panorama di sekitar hajatan akal budi yang
bernama ujian nasional (SLTA), amat nyata bahwa yang terjadi adalah
sebaliknya. Ada kesan mendalam, lembaga pendidikan tidak memberi
perhatian pada pengembangan kepekaan nurani peserta didik.

Tujuan pendidikan direduksi hanya demi pengembangan akal budi.
Padahal, seharusnya pendidikan juga demi perkembangan ketajaman
nurani. Pendidikan yang benar adalah pendidikan yang melatih
penggunaan akal budi dan nurani. Profesi guru atau pendidik adalah
profesi pengembangan akal budi dan hati atau nurani peserta didik.

Hampir setiap tahun ditemukan kebiasaan salah, berbentuk ujian
nasional. Ujian nasional dijadikan kegiatan paling penting dan harus
dihadapi jika anak dan peserta didik ingin dianggap bermutu. Ujian
pun lalu dianggap sebagai satu-satunya hal yang paling menentukan
hidup, sekaligus sebagai kegiatan yang asing dan menakutkan
kehidupan peserta didik.

Demi suksesnya ujian, peserta didik mencari tempat-tempat les yang
akan menjamin tercapainya angka ujian yang mencukupi, sebagai syarat
kelulusan. Bak gayung bersambut, gairah itu ditanggapi dengan
menjamurnya tempat les yang secara khusus menawarkan persiapan ujian
(Kompas, 4-5 Maret 2007). Ini menandakan peserta didik tidak percaya
kepada guru. Tidak hanya itu, para siswa sepertinya tidak
mendapatkan apa pun dari guru dan sekolah.

Memperbusuk kehidupan

Terkait latihan untuk mempertajam hati nurani, yang terjadi sungguh
berbeda. Dapat disimpulkan, lembaga pendidikan tidak melayani
peserta didik dalam pengolahan nurani. Hati nurani dianggap tidak
perlu diperhatikan dalam proses mengajar-belajar. Nurani
dikesampingkan.

Maka, jangan heran apabila bermunculan berbagai ketidakwajaran yang
memperbusuk kehidupan bangsa. Mutu bangsa Indonesia kian merosot
karena peran hati nurani dikesampingkan, tidak dihiraukan.

Berbagai contoh berikut menguatkan kesan akan tidak berfungsinya
nurani.

Pertama, seorang kepala sekolah mengambil kertas soal ujian nasional
tanpa izin alias mencuri. Jika kepala sekolah saja mau melakukan
tindak pencurian entah dengan alasan apa pun, bagaimana dengan para
gurunya? (Kompas, 17/4/2007). Di manakah nurani sebagai pendidik?

Kedua, serombongan peserta didik menyerang dan merusak sekolah lain
hanya karena para guru sekolah bersangkutan mengawasi secara ketat
jalannya ujian. Para guru terpaksa diamankan oleh polisi (Kompas,
20/4/2007). Nurani anak-anak sebagai peserta didik ada di mana?

Ketiga, pengalaman rekan guru. Ketika menjalankan pengawasan ujian,
banyak rekan guru terbengong-bengong karena ucapan peserta
ujian “apakah ibu tidak melakukan hal yang sama saat sekolah dulu?”.
Kata-kata itu terdengar segera setelah seorang ibu guru menegur
peserta didik yang berusaha melakukan tindakan tidak jujur. Nurani
tidak berperan, tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang
salah.

Keempat, pengalaman guru lain. Menjelang melakukan tugas pengawasan
ujian, seorang rekan guru sempat mendengar celotehan serius, “bapak,
ibu, longgar-longgar sajalah (dalam mengawasi).” Benarkah masih
punya kesediaan untuk mendengar nurani sebelum melatihkannya kepada
peserta didik?

Kelima, jawaban soal-soal beredar menjelang ujian nasional
berlangsung. Ini menjadi tanda ada kebocoran. Bisikan nurani pun
tidak didengarkan, atau bahkan sudah tak berbisik alias mati
(Kompas, 19/4/2007).

Keenam, kepala sekolah dan oknum Dinas Pendidikan bersekongkol untuk
meluluskan peserta didik dengan cara kotor (Kompas, 27/4/2007).
Pendidikan mau dipercayakan kepada nurani siapa lagi? Maka, kini
sudah saatnya mengibarkan bendera hitam untuk dunia pendidikan.

Latihan mengasah nurani

Profesi guru adalah profesi akal budi dan nurani. Maka dapat
dikatakan, lembaga pendidikan adalah tempat untuk melatih peserta
didik berpikir, mendengarkan, dan mengasah nurani. Kenyataannya,
latihan mendengarkan atau mengasah nurani tidak pernah terjadi. Demi
kehebatan akal budi, pesan nurani dilanggar saja. Nurani tidak
pernah didengarkan.

Jika kebiasaan seperti itu diteruskan, segala usaha untuk memajukan
pendidikan pasti akan sia-sia; dan terjadi kemerosotan. Kemajuan
pendidikan akan terjadi jika ada habitus melatih peserta didik untuk
mengasah nurani. Salah satu cara adalah dengan memberi sanksi tegas
dan radikal atas pelanggaran nilai kehidupan (value). Pembubaran
IPDN belum tentu menghapus kekerasan, tetapi secara khusus dapat
dijadikan contoh nyata dan pernyataan imperatif yang tegas dan jelas
bahwa nurani harus didengarkan, diasah, dan nilai kehidupan harus
diperjuangkan.

Kapan diselenggarakan hajatan nurani secara nasional agar muncul
cerdik pandai bernurani?

Baskoro Poedjinoegroho E, Direktur SMA Kanisius Jakarta, Anggota Dewan Pendidikan Jakarta Pusat

Sumber: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/02/opini/3493589.htm

Leave a comment

Filed under makalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s