Guru Profesional, Adakah?

 

Berita dari dunia pendidikan menggetarkan: pertama, hampir separuh dari lebih kurang 2,6 juta guru di Indonesia tidak layak mengajar. Kualifikasi dan kompetensinya tidak mencukupi untuk mengajar di sekolah.Yang tidak layak mengajar atau menjadi guru berjumlah 912.505, terdiri dari 605.217 guru SD, 167.643 guru SMP, 75.684 guru SMA, dan 63.961 guru SMK. Hal menarik, yang juga dikemukakan oleh Prof Nanang Fatah, yaitu bahwa pada uji kompetensi Matematika, dari 40 pertanyaan rata-rata hanya dua pertanyaan yang diisi dengan benar dan pada Bahasa Inggris hanya satu yang diisi dengan benar oleh guru yang berlatar belakang pendidikan Bahasa Inggris.

Kedua, tercatat 15 persen guru mengajar tidak sesuai dengan keahlian yang dipunyainya atau bidangnya (Kompas, 9/12/05). Berapa banyak peserta didik yang mengenyam pendidikan dari guru-guru tersebut? Berapa banyak yang dirugikan? Memprihatinkan. Mengenaskan. Bencana untuk dunia pendidikan. Mungkinkah guru menjadi profesional?

Rentetan tantangan

Terlepas dari pelbagai pendapat atau reaksi yang muncul atas berita atau data di atas, penulis teringat kejadian pada beberapa tahun yang lampau di saat banyak IKIP mengubah diri menjadi universitas. Pada sebuah lembaga tertentu, di saat pimpinan menentukan/menawarkan siapa-siapa yang mesti menjadi dosen di fakultas keguruan atau nonkeguruan, ternyata banyak dosen yang tidak suka mengajar para calon guru. Kebanyakan lebih menyukai mengajar di fakultas nonkeguruan.

Mengapa mereka lebih menyukai tidak mengajar di fakultas keguruan? Apakah kenyataan ini juga mempunyai korelasi dengan kualifikasi dan kompetensi para guru?

Dalam pelbagai kesempatan (yang hampir membosankan) banyak didiskusikan mengenai para calon guru atau mereka-mereka yang sedang belajar untuk menjadi guru. Siapakah mereka itu? Apakah mereka itu memang sejak semula bercita-cita menjadi guru atau lantaran tidak dapat masuk ke fakultas lain lantas memaksakan diri untuk menjadi guru? Apakah kegagalan mereka untuk memasuki fakultas nonkeguruan merupakan tanda bahwa mereka memang tidak mempunyai kemampuan yang mencukupi?

Apabila demikian, apakah mereka dapat dikatakan terdampar menjadi guru? Bukankah hampir tidak pernah terdengar di telinga tentang sebuah cita-cita untuk jadi guru, sekalipun dari anak guru? Apakah ini ada korelasinya dengan kualifikasi dan kompetensi para guru di atas?

Memurnikan keguruan

Guru profesional adalah guru yang mengenal tentang dirinya. Yaitu bahwa dirinya adalah pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk/dalam belajar. Guru dituntut untuk mencari tahu terus-menerus bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar. Maka apabila ada kegagalan peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan penyebab kegagalan dan mencari jalan keluar bersama dengan peserta didik; bukan mendiamkannya atau malahan menyalahkannya.

Proses mendampingi peserta didik adalah proses belajar. Karena sekolah merupakan medan belajar, baik guru maupun peserta didik terpanggil untuk belajar. Guru terpanggil untuk bersedia belajar bagaimana mendampingi atau mengajar dengan baik dan menyenangkan; peserta didik terpanggil untuk menemukan cara belajar yang tepat.

Medan belajar adalah medan yang menyenangkan, bukan menyiksa apalagi mengancam. Oleh karena itu, yang harus terlibat dalam medan belajar adalah hati atau lebih daripada budi. Jadi perkara belajar adalah perkara hati dan budi; memberikan penekanan pada peran budi semata- mata seperti yang lazim terjadi pada saat ini akan merintangi kemajuan pendidikan.

Menjadi guru bukan sebuah proses yang yang hanya dapat dilalui, diselesaikan, dan ditentukan melalui uji kompetensi dan sertifikasi. Karena menjadi guru menyangkut perkara hati, mengajar adalah profesi hati. Hati harus banyak berperan atau lebih daripada budi. Oleh karena itu, pengolahan hati harus mendapatkan perhatian yang cukup, yaitu pemurnian hati atau motivasi untuk menjadi guru.

Memang harus disadari bahwa kondisi guru seperti yang tercermin pada temuan di atas harus menjadi keprihatinan bersama. Kondisi itulah yang harus dihadapi, bukan menjadi ajang untuk menyangkal atau malahan untuk menyalahkan pihak-pihak tertentu (yang tidak ada manfaatnya sama sekali). Dari itu semua yang paling berkepentingan adalah pribadi guru sendiri. Namun, itu sekaligus pula jangan sampai untuk mematahkan semangat rekan guru yang masih ingin menghidupi keguruannya.

Sikap yang harus senantiasa dipupuk adalah kesediaan untuk mengenal diri dan kehendak untuk memurnikan keguruannya. Mau belajar dengan meluangkan waktu untuk menjadi guru. Seorang guru yang tidak bersedia belajar tak mungkin kerasan dan bangga jadi guru. Kerasan dan kebanggaan atas keguruannya adalah langkah untuk menjadi guru yang profesional.

Baskoro Poedjinoegroho E Direktur SMA Kanisius Jakarta, Anggota Dewan Pendidikan Jakarta Pusat

Leave a comment

Filed under makalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s