Bukan Juara, tetapi Bermental Juara

Ada sebuah berita menarik, Mendiknas Bambang Sudibyo meresmikan “Plaza Siswa Berprestasi” pada 15 Januari 2007.

Pada plaza itu dipajang 44 foto pelajar dan mahasiswa berprestasi di tingkat dunia dalam bidang sains, matematika, seni, dan olahraga. Diharapkan, plaza ini bisa menjadi sumber inspirasi, teladan, dan pendorong bagi pelajar dan mahasiswa untuk mencapai prestasi tertinggi (Kompas, 16/1/2007). Sebuah usaha yang pantas untuk dihargai.

Di sisi lain pendirian Plaza itu menimbulkan pertanyaan. Untuk memajukan mutu pendidikan, efektifkah mendirikan plaza seperti itu? Apakah plaza ini sungguh akan mendorong kaum muda berprestasi?

Perlukah ikut olimpiade?

Pertanyaan itu menghangatkan ingatan penulis akan pertemuan dengan para Kepala Sekolah SMA DKI Jakarta yang membahas olimpiade yang biasa diadakan setiap tahun. Di tengah diskusi, salah satu peserta mempertanyakan urgensi dan perlunya mengikuti olimpiade.

Pertanyaannya amat sederhana. Mengapa kita harus mengirimkan wakil untuk mengikuti olimpiade yang memakan biaya mahal? Apa tidak lebih tepat biaya yang besar itu digunakan untuk memperbaiki gedung-gedung sekolah yang reyot? Apa tujuan mengikuti olimpiade? Apakah itu bukan hanya untuk menutupi kemunduran pendidikan kita dengan cara menonjolkan calon-calon juara? Hampir semua tersengat dengan pertanyaan-pertanyaan tajam dari seorang kepala sekolah yang kritis dan punya hati untuk pendidikan itu.

Jika ditelusuri lebih dalam, sebenarnya kejuaraan hanya dimiliki oleh segelintir orang atau bahkan dapat dibilang, yang menjadi juara hanya satu. Umumnya tidak ada juara lebih dari satu. Ini sekaligus menunjukkan, juara tidak membuktikan sama sekali bermutu-tidaknya perihal atau bidang yang dilombakan.

Sisi lain yang harus dicermati adalah merebaknya kehausan untuk mengalahkan pihak lain demi tercapainya kejuaraan. Dapat diduga ada rasa senang bila saingannya gagal. Apabila mampu mengalahkan pihak lain, akan menjadi juara, akan dihargai; sedangkan yang kalah sama sekali tidak akan dihiraukan atau mendapat perhatian; padahal jumlah yang kalah lebih banyak daripada yang menjadi juara.

Bayangkan bila sebagian besar peserta didik atau kaum muda Indonesia tidak pernah mendapat perhatian atau penghargaan? Konon, pada saat berusia muda siapa pun perlu mendapat pengalaman dihargai, bila mau tumbuh hidupnya secara wajar.

Seandainya sebagian besar kaum muda hanya sarat dengan pengalaman akan ketidakberhasilan karena tidak pernah menjadi juara, apa jadinya bangsa Indonesia ini? Karena itu, pertanyaan rekan kepala sekolah itu selayaknya ditanggapi serius.

Hasil karya dan kerja

Pada hemat penulis, memacu dan memompa semangat juara adalah positif. Artinya, mempunyai semangat berkompetisi demi mencapai hasil optimal yang sesuai kemampuan diri. Yang bersangkutan berkompetisi dengan diri sendiri untuk meraih hasil setinggi, sebesar, atau mutu setinggi mungkin. Dan, rekan lain menjadi partner dalam usaha untuk mewujudkan kemampuan diri secara optimal.

Jadi, semangat juara yang dimaksudkan adalah semangat untuk berusaha, semangat untuk berkarya, berdaya juang. Semangat berkarya seperti ini harus senantiasa diinternalisasikan ke dalam diri setiap peserta didik.

Matra inilah yang amat jarang diberi perhatian yang cukup; padahal inilah yang dibutuhkan bangsa Indonesia. Ini pula yang sebenarnya menjadi inti pendidikan, yaitu memerhatikan karya atau usaha setiap peserta didik; memberi apresiasi pada setiap hasil usaha peserta didik; bukan memberi apresiasi hanya kepada yang menjadi juara.

Oleh karena itu, yang seharusnya dan sebaiknya dipamerkan di setiap lembaga pendidikan mestinya bukan piala-piala atau trofi-trofi kejuaraan, seperti yang biasa dilihat pada kebanyakan sekolah Indonesia dan yang acap kali dianggap sebagai wajah lembaga, tetapi hasil karya atau kerja peserta didik.

Buah karya peserta didik itulah yang akan menjadi salah satu bukti adanya perhatian dan apresiasi terhadap peserta didik. Buah karya semacam ini akan lebih menggetarkan dan mendorong peserta didik untuk tidak menjadi malas, tidak takut berusaha, tidak takut bersaing alias berprestasi.

Kapan lembaga pendidikan terbiasa untuk memamerkan hasil karya peserta didiknya?

URL Source: http://kompas.com/kompas-cetak/0702/12/opini/3301135.htm

Baskoro Poedjinoegroho E Direktur SMA Kanisius Jakarta, Anggota Dewan Pendidikan Jakarta Pusat

Leave a comment

Filed under makalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s